Ketika sesuatu kita lakukan dengan antusiasme berlebih, coba kita tela'ah lebih dalam. Apakah itu hanya euforia sesaat, ataukah sekedar ikut-ikutan . pastikan ada tujuan yang jelas didalamnya, dan langkah yang kita tempuh sudah benar dan tidak merugikan siapapun. #pelajaran hari ini, dari hasil mem-flashback ingatan masa lalu :)
Kamis, 25 Juli 2013
Antusiasme, buah kesungguhan atau euforia semu?
Minggu, 21 Juli 2013
Mengerti atau dimengerti?
Saat kita ingin dimengerti oleh seseorang, sudahkah kita memcoba mengerti terlebih dahulu kondisi yang dihadapinya?
Pun ketika kita sudah berusaha mengerti, namun ia tetap tidak mau mengerti kita,
Kesabaran dan lapang dada sungguh jauh lebih indah.
Sesungguhnya Allah bersama orang2 yang sabar :)
Jumat, 19 Juli 2013
Mengenal ikhlas
Ikhlas itu ketika bagaimana caranya kita berbuat baik kepada seseorang sehingga orang tersebut tidak menyadari kebaikan kita.
Sebagaimana kita diperintahkan untuk mengingat kebaikan orang lain pada kita dan melupakan kebaikan kita terhadap orang lain
Sejujurnya hal ini amat sulit bagi saya pribadi, karna sebagai manusia kita memiliki hasrat untuk diapresiasi.
Namun jika kita berhasil melakukannya tentu dapat menjaga hati kita dari ujub dan penyakit hati lainnya :)
Minggu, 14 Juli 2013
Ilmi
Tau itu mudah, siapapun bisa jika mau membuka cakrawala. Tapi 'tau' yg menggerakkan?
Atau penggerak yg mengayuhnya hingga tak berakhir hanya sekadar 'tau'?
Itulah ilmu yg penuh berkah, ya, keberkahan dalam berilmu.
Allahumma inna nas'aluka salamatan fiddin, waziyadatan fil ilmi... Waziyqdatan fil ilmi... Waziyadatan fil ilmi....
Prosa indah, paragraf ber-EYD, blm lah sampai. Tp smoga mampu mengetuk hatiku dan hatimu :)
Come back, hope istiqomah. Bismillah :)
Kamis, 12 Juli 2012
Dibalik pahitnya penolakan
Senin, 25 Juni 2012
Makna pendewasaan, dulu dan kini
Aku tidak mengerti, sempat aku membaca mengenai proses kematangan seseorang, kematangan fisik, maupun kematangan jiwa dalam diri manusia. Tapi bagiku, itu hanyalah proses, proses yang akan kulalui, begitu saja….
Dahulu seperti itulah ku mengira, kehidupan ini, dalam diri ini dengan proses pendewasaannya
Dulu aku bagaikan mati rasa, ataukah dulu aku adalah aku yang pandai bersyukur? hingga semua terasa baik-baik saja, hidup terasa akan lempeng-lempeng saja, hingga nanti…
Memang dalam tiga tahun belakangan, telah banyak perubahan terjadi padaku. Mulai dari pola pikir, prilaku, tujuan, tujuan? Dari mana datangnya tujuan itu, dulu…?
Dulu, jika ku pikir-pikir, aku seperti terarahkan oleh angin, angin yang membawaku pada mereka, yang memberiku warna, dan aku kanvasnya, hanya kanvas putih yang siap ditumpahi cat. Heran aku dibuatnya…
Duh, bagaimana jika angin membawaku kepada mereka yang mungkin akan memberi warna-warna yang redup, gelap. Meski ku tahu, siapalah lagi yang mampu menentukan arah hembusan angin itu…
Kini, sungguh... aku merasa seperti bayi yang baru membuka matanya pertama kali… tapi apa yang kulihat? Aku melihat diriku, dengan perasaan yang sedikit pilu dan malu. Apanya yang baik-baik saja?
Sungguh, baru kali ini aku merasa, masih belum apa-apa. Yang tadinya kurasa, semua baik-baik saja, tapi ternyata diri ini tak sebaik yang kusangka, sebelumnya…
Kian hari, ku perhatikan diri ini lekat-lekat. Satu demi satu, kutemukan celah-celah itu. Sebagian telah terisi, tak sedikit yang berisi kekeliruan. “mengapa baru kusadari?”
Setelah itu, apakah timbul sesal?
“tidak!”
Justru, dengan itu semua, akhirnya aku memahami apa itu proses pendewasaan diri.
Justru, dengan itu semua, akan lahir aku yang lebih baik lagi.
Justru, dengan itu semua, aku bersyukur. Mungkin inilah titik balik untukku, merubahnya semampuku, selagi ku diberi-Nya waktu.
Semua ini terasa seperti bebatuan, aku tersandung olehnya kemudian terperosok, lalu timbul luka menganga yang begitu perih. Tapi Ya Rabb, tiap kali perih itu kurasakan, saat itu pula tiap sujudku terasa begitu lekat, nyaman dan syahdu. Deru-derai air mata yang menetes, terasa seperti butir-butir kesejukan melunakkan hati yang kian membeku. Jika memang begitu cara-Mu mencintaiku, aku rela sebanyak apapun luka itu menimpaku. Tapi, jika itu semua adalah teguran dari-Mu karena ke-alfa-an ku. Jangan timbulkan dalam diri ini, selain rasa jera dan rasa cinta yang kian mendalam kepada-Mu. “Ya Rabb yang Maha Pemurah, ampunilah aku, lindungilah aku dari keburukan perbuatanku….”