Jumat, 26 November 2010

My own little mission!


"SUKSES DUNIA-AKHIRAT"


"PERGURUAN TINGGI NEGERI"


"TEKNIK SIPIL/MATEMATIKA"


"LAKUKAN YANG TERBAIK"


"BERMANFAAT UNTUK SEMUA ORANG"


"JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR"


"STUDY ABROAD"


"LAKUKAN SESUATU UNTUK AGAMA, BANGSA DAN KELUARGA"


"MEMPERBAIKI HUBUNGAN SOSIAL"


"ENTERPRENEUR"


"CINTA " ^_^


Selasa, 23 November 2010

HAK

assalamu'alaikum wr. wb. come back after so long-long time... ><

Hari ini saya mendapat satu pelajaran berarti,
Sedikit esensi penting dari perayaan ulang tahun, sederhana saja, bukan dalam maksud untuk melakukan ritual yang tidak disyari'atkan.

Karena sesungguhnya, hari kelahiran kita adalah sebuah titik balik. dimana kita, telah diizinkan untuk berjuang sendiri, tanpa perlindungan super protektif dari rahim seorang ibu. Dan saat itu, kita telah diperkenankan oleh-Nya, untuk mulai mencari sendiri kepingan mozaik-mozaik, yg akan kita susun dalam hidup kita.

Disisi lain, sulit memungkiri, bahwa setiap manusia memiliki suatu kebutuhan yang sangat penting, yaitu untuk diakui keberadaannya. Yang jika tidak dituntaskan, akan mempengaruhi kualitas hidupnya.

Ya, pengakuan.Pernahkah kalian merasa sendiri dan "seolah" tidak ada orang yang mau mengerti?

Jika demikian, berarti ada tiga kemungkinan. Pertama, orang-orang disekeliling kita telah melalaikan kebutuhan kita untuk diakui keberadaannya. Kedua, hati kita terlalu beku, untuk menyadari, bahwa mereka begitu peduli terhadap kita. Ketiga, mungkin tanpa kita sadari, kita telah menolak mentah-mentah kepedulian orang lain terhadap kita.

Ketahuilah, terdapat hak orang lain dalam diri kita. Yang apabila tidak dituntaskan, maka bersiaplah untuk dimintakan pertanggung jawaban saat kita dibangkitkan kembali setelah kematian. Selain untuk diakui, orang lain juka punya hak atas diri kita untuk dibantu saat mereka dalam kesulitan, diingatkan ketika mereka lupa, dimudahkan urusannya jika berkaitan dengan diri kita, dan masih banyak lagi hak-hak orang lain yang harus kita penuhi.

#memperbaiki kemampuan interaksi sosial. one step ahead! :)

#perjalanan menuju perguruan tinggi negeri. one step ahead! (amin)

*nb: bangun tegah malem, niatnya mau belajar. eh malah buat posting, saking pengennya meluapkan kebahagiaan. all my friends, happy birthday! enjoy your great day! and say thanks to Allah for your bright future!

and thanks for everything, i don't know if i can get the same atmosphere like you have made, in another places. :D

Minggu, 21 November 2010

Lullaby


Tonight, lay your wearied head
in deep slumber, on Morpheus bed.
For body and mind to function best
we all need a worthy rest.

.

Your wailing soul seeks sanctuary
under the dreamy skies dark and starry,
not every pain and loss is yours to carry
Disasters took place, they’re nature’s mystery.

.

Motherland is calling you, your blood and kin screams
Fly to be with them, across the earth in your dreams,
Half a world away, your hands are tied, silence lingers
Just be there in spirit, with your thoughts and prayers.


Repost from :

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2010/11/21/a-lullaby/

Selasa, 05 Oktober 2010

SABOTASE

Mau tahu siapa ahli sabotase didunia ini?
Tanyakan saja pada ibu-bapakku!

Jumat, 03 September 2010

Apakah yang anda fikirkan tentang saya?

Adakah kalian berfikir saya munafik?
Adakah kalian berfikir saya freak?
Adakah kalian berfikir saya sulit dimengerti?
Adakah kalian berfikir saya "an-sos" (anti sosial) ?
Adakah kalian berfikir saya bermulut besar?
Adakah kalian berfikir saya pendiam?
Adakah kalian berfikir saya aneh?
Adakah kalian berfikir saya kasar?
Adakah kalian berfikir saya begitu bodoh?
Adakah kalian berfikir saya bahkan tidak pernah memikirkan perasaan orang lain?

Begitulah kiranya otak spekulatif saya menerka, dan mungkin beginilah orang yang mengalami krisis kepercaya-dirian berfikir.

Entah, meskipun saya tahu akar penyebab dari krisis tsb., hingga sekarang saya bahkan masih sulit menghilangkan kebiasaan yang membuat saya tidak percaya diri, yaitu : "MELANGGAR JANJI PADA DIRI SENDIRI".

Padahal Allah menjanjikan, bahwa Ia akan jadikan hamba-Nya sesuai dengan prasangkaan hamba itu sendiri.

Saya mengingatkan diri saya dan juga anda, janganlah menjadi orang sulit, berfikir positiflah selalu, karena belum tentu segala sesuatu itu sesuai dengan dugaanmu. dan sebagian besar hal yang anda takutkan itu tidak benar-benar terjadi. yakinlah! Pertolongan Allah sungguh dekat teman! ^^

SALAM SUPER! (*copied)

Kamis, 02 September 2010

Pembicara Bijaksana : Hilangkan "Meaningless Word"


“Perbedaan antara orang pintar dan orang bijaksana adalah orang pintar tahu apa yang harus dikatakan, sementara orang bijaksana tahu perlu atau tidak kalimat tersebut dikatakan” – Frank M Garafola –


“Yaa gitu deh.” Seberapa sering kita mendengar kalimat seperti ini? Mungkin sudah tak terhitung banyaknya. Rasanya cukup sulit untuk memahami maksud si pembicara tanpa adanya probing lebih lanjut. Karena memang pada dasarnya kalimat ini tidak memiliki makna, atau meaningless words.

Di beberapa literatur juga didapatkan istilah yang tak jauh berbeda, yaitu powerless words dan vocalizers.
Sayangnya, kalimat tanpa makna ini tidak hanya muncul pada percakapan sehari-hari, tetapi juga dapat muncul dalam sebuah forum formal. Kata-kata ini juga dapat muncul dalam sebuah diskusi, seminar, ataupun wawancara di televisi.

Tak jarang kita temukan seorang pembicara yang sangat cerdas namun menjawab pertanyaan dari pembawa acara dengan kata-kata seperti “Gitu loh”. Contoh lain yang sering terucap adalah “Umm…” atau “Eeeeh…” yang seringkali dipergunakan untuk mengisi kekosongan atau jeda berpikir saat sedang berbicara. Padahal, penggunaan kata-kata ini dapat menimbulkan kesan negatif pada pembicara. Salah satunya menyebabkan pembicara terlihat tidak memiliki rasa percaya diri, tidak yakin, tidak siap berbicara, atau lebih lagi terlihat tidak terlalu cerdas (Hunt, 1981; Berkley, 2002).


Menurut ketiga pendiri sekolah TALK-inc, Sriewijono, Tumewu, & Parengkuan (2008), ada tiga alasan yang menjelaskan penyebab seringnya kata-kata tanpa makna tersebut kita ucapkan.

Pertama, sebagian besar orang berbicara tanpa berpikir. Kata-kata spontan ini seringkali muncul apabila tidak tersedia waktu untuk berpikir, atau karena sedang tidak terpikir apa yang akan dibicarakan. Misalnya ketika seorang pembicara yang tiba-tiba ditanya oleh pendengar atau ketika pertanyaan dari pendengar cukup menyulitkannya.


Kedua, sebagian besar orang berbicara hanya dari sudut pandangnya. Terkadang seorang pembicara lupa bahwa pendengarnya tidak memiliki sudut pandang dan kerangka berpikir yang sama. Misalnya pembicara lupa bahwa pendengarnya belum tentu memiliki pengetahuan dasar yang sama dengannya. Sehingga, pembicara sering menggunakan kata “ya begitu” tanpa menjelaskan apa makna “begitu” yang dia maksud.


Ketiga, sebagian besar orang berbicara tanpa memperhatikan dampaknya. Banyak orang yang tidak mempertimbangkan akibat dari kata-kata yang dikeluarkannya. Seperti misalnya pernyataan “kasian deh lo” seperti sudah tidak jelas tujuannya. Apakah kalimat ini untuk menyatakan empati atau sedang mengejek. Sayangnya, banyak orang yang berkomentar seperti itu namun tidak mempertimbangkan kemungkinan pengaruhnya terhadap orang yang diajak bicara.
Melihat akibat negatifnya, kata-kata tanpa makna ini dapat menjadi “virus” bagi seorang pembicara.

Oleh karena itu, ada beberapa tips untuk meminimalisir penggunaan kata-kata ini.


1. Diagnosa masalah. “Virus” ini bersifat unconscious, sehingga terkadang kita tidak sadar telah mengucapkannya. Salah satu cara untuk mendiagnosa seberapa besar “virus” ini telah mempengaruhi penampilan kita adalah dengan merekam ketika kita sedang berbicara di depan umum. Kemudian, dengarkan kembali rekaman tersebut dan tandai ketika kata-kata tersebut terucap. Hal ini dapat melatih pendengaran kita agar mampu untuk cepat mengidentifikasi kata-kata tanpa makna tersebut.

2. Berhenti bicara ketika tiba-tiba menyadari pengucapan kata-kata tanpa makna tersebut, atau saat merasa kata-kata tersebut akan keluar. Oleh karena itu, penting sekali kemampuan yang didapat dari poin pertama di atas. Jangan merasa takut untuk diam sebentar di sela-sela presentasi, karena ternyata apabila tidak lebih dari 5 detik, pendengar tidak akan terlalu menyadari hal tersebut. Selain dapat membantu mengumpulkan kata-kata yang sempat hilang tersebut, pause tersebut juga sekaligus memberikan waktu bagi pendengar untuk merefleksikan apa yang baru saja pembicara katakan. Apabila keheningan sesaat itu masih terasa menakutkan, tarik nafas, baru mulai bicara. Hal ini dapat membantu tetap tenang, dan pause tersebut tidak lagi terasa begitu menakutkan.

3. Minta bantuan pada teman ataupun keluarga. Minta mereka untuk mengingatkan kita apabila kata-kata tersebut muncul. Apabila hal ini konstan dilakukan, mampu membantu menghilangkan kebiasaan buruk ini lebih cepat. Jadi, ingin menjadi orang pintar atau orang bijaksana?

Referensi Berkley, S. (2002, February 7). How to Cure the “Verbal Virus” A Five-Step Treatment Plan. Retrived October 19, 2009, from School for Champions : http://www.school-for-champions.com Hunt, G. T. (1981). Public Speaking. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Sriewijono, A., Tumewu, B., & Parengkuan, E. (2008). TALK-inc. points. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

repost from : http://ruangpsikologi.com