Tampilkan postingan dengan label Rekomendasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rekomendasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2010

Jalan Cinta Para Pejuang


Satu lagi list buku yang pengen dibaca!

Kutipan salah satu bab di dalam buku ini
Sergapan Rasa Memiliki

..milik nggendhong lali..
rasa memiliki membawa kelalaian
-peribahasa Jawa-

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..

Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

Asma Nadia's Books



Sinopsis from catalog :
Buku ini bisa membuatmu marah, sekaligus tertawa. Bahasanya santai, mengundang senyum, tapi provokatif banget. Insya Allah bakal bikin kuping merah dan perasaan gerah, yang akan membuatmu tak sabar memperbaiki diri
Lengkap dengan tips-tips praktis yang akan menuntun muslimah jadi pribadi plus. Jangan Jadi Muslimah Nyebelin! adalah sebuah risalah bagi muslimah, untuk ishlah dalam setiap desah napas.




Sinopsis from catalog :
Buku ini merupakan media muhasabah bagi muslimah. Untuk yang sudah menikah, maka Muhasabah Cinta adalah obat untuk menelusuri cinta yang mungkin sempat pudar, atau setetes embun bagi harumnya bunga pernikahan. Bagi yang belum menikah, akan memperbaiki persepsi dan memberikan kesiapan yang lebih baik untuk menyambut pernikahan, menjadi istri dan ibu.

tapi semuanya belum saya miliki! ckckck


Kamis, 17 Desember 2009

Addicted with Andrea's

Assalamu'alaikum wr.wb.

Apa kabar kawan?
Bagaimana rapotnya? ohh, sudah jangan dibahas!!!

Tahukah? Sebuah terobosan baru jika saya bisa tahan membaca buku yg tebalnya lebih dari 10mm, tidak berlebihan, memang benarlah keadaannya begitu. semoga tidak banyak Annisa-Annisa lainnya di Indonesia. Karena kapan Negeri tercinta ini akan maju kalau semua penghuninya seperti saya ini! haduhduh...aib sekali

Kawan, Siapa yang tidak kenal sosok yang satu ini, penulis novel fenomenal dengan gaya tradisional melayu berunsur science yang penuh motivasi? , sungguh unik. pasti kenal bukan?
hah? Raditya Dika? oh jelas bukan! (frontal)

ANDREA HIRATA
ohh, dialah yg mendobrak image saya sebagai "anti-baca buku yg ketebalannya lebih dari 10 mm". dia telah memberikan terobosan baru dalam hidup saya! sungguh... saya teradiksi dengan karya-karyanya...susunan kata yang yang ia rangkai, betul-betul indah bukan buatan....

Saya memang bukan orang yang mengerti sastra, sama sekali bukan. Tapi, karya sastra yang satu ini, membuat saya ingin menjelma dari si "anti-baca buku yg ketebalannya lebih dari 10mm" menjadi si "kan kubaca meski ketebalannya lebih dari 100cm (lebay rupanya)". Ya, hanya agar saya mendapat inspirasi dan tuntunan untuk merangkai mozaik-mozaik kehidupan saya agar lebih baik dan penuh makna.

satu hal lagi, semoga saya bisa baca berulang-ulang buku tetralogi Laskar Pelangi kepunyaan sendiri, bukan minjem sana-sini. hehe









SALAM UKHUWAH

Wassalamualaikum wr. wb.