Jumat, 06 Januari 2012
Ada apa dalam beberapa bulan terakhir?
Buah hatiku mujahidku...
dakwatuna.com – Pagi yang cerah, namun wanita berjilbab hijau muda itu tampak semakin gelisah. Sudah 3 hari berselang dan ia sama sekali tidak bisa sedikit pun memejamkan matanya meskipun kelelahan telah meliputi tubuhnya yang telah ringkih dan melemah. Beberapa saat lagi, ya, beberapa saat lagi seseorang yang ia tunggu-tunggu akan hadir, belahan jiwanya, darah dagingnya. Malam itu sang dokter telah berkata bahwa bayi di dalam kandungannya akan segera terlahir ke dunia. Beribu-ribu perasaan bercampur aduk di dalam dadanya. Antara senang, cemas, khawatir, semuanya bergemuruh di dalam hatinya. Seorang anak laki-laki yang telah ia tunggu-tunggu kehadirannya. Lebih dari 6 tahun ia menunggu kehadiran buah hatinya itu. Setelah anak pertamanya lebih Allah sayangi dan harus menghadap-Nya terlebih dahulu.
Mentari sudah semakin turun, menuju peraduannya di sini namun muncul bersinar di belahan bumi lainnya. Dokter kandungan itu telah mengisyaratkan sang ibu untuk tetap beristirahat di ruangan. Namun entah mengapa ia tidak mampu menahan keinginannya untuk berada di luar. Meskipun dokter sudah mengatakan bahwa bayinya akan lahir 5-6 jam lagi namun hingga detik ini ia sama sekali tidak merasakan apapun. Setelah selesai melaksanakan shalat Ashar berdua dengan suaminya, maka ia putuskan untuk berjalan keluar bersama suaminya. Mereka berjalan menuju taman rumah bersalin itu. Saat itu musim gugur, suhu di luar cukup bisa membuat gigi bergemeletak jika tidak mengenakan jaket tebal dan baju berlapis-lapis. Awan saling bertindih dan mengisyaratkan bahwa tak lama lagi salju akan menyambut setiap manusia di belahan bumi kota itu.
Sudah 2 minggu ini ia tinggalkan segala aktivitas kesehariannya sebagairesearcher di sebuah universitas ternama di Leeds, UK. Sadhia, begitulah ia biasa dipanggil oleh rekan sejawatnya. Seorang wanita campuran Jawa-Manado yang telah menghabiskan waktunya untuk menciptakan inovasi-inovasi dan karya-karya hebat bagi kemajuan kehidupan perempuan muslim. Berkali-kali ia terlibat di dalam NGO (Non-Government Organization) Muslimah Internasional yang memperjuangkan hak-hak para wanita muslim di berbagai belahan dunia. Dialah yang berjuang dengan penuh semangat agar wanita dengan hijab dapat diterima tanpa diskriminasi, termasuk di Inggris ini. Disertasi yang sedang ia susun kali ini memang tidak jauh dari pemberdayaan perempuan muslim di Inggris. Sadhia, dia pulalah yang banyak memberikan masukan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia ketika kabinet itu baru berdiri. Ide-ide brilian dan semangat yang tak kunjung padam selalu memancar dari mata muslimah ini.
Syarif, suaminya, ia pun menimba ilmu bersama dengan istrinya di kampus yang sama. Beberapa bulan yang lalu baru saja ia berhasil mempertahankan disertasi di hadapan para professor dan meraih gelar Doktor di bidang biomedik dengan predikat “sempurna”. Dengan pertimbangan masa studi istrinya yang masih memakan waktu satu tahun lagi, akhirnya ia putuskan untuk mengambil tawaranpost doctoral dari kampus. Kesempatan itu ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas risetnya terutama untuk diaplikasikan di Indonesia.
Segala sesuatunya nyaris sempurna untuk keluarga ini, namun sayang, Allah belum berkenan memberi rezeki yang sudah menjadi penantian bagi setiap pasangan, yaitu buah hati. Desember, enam tahun lalu adalah saat yang sangat memilukan untuk mereka. Putri pertama mereka terpaksa harus dikeluarkan melalui proses caesar karena ternyata plasenta sang ibu menutupi jalan lahir. Saat itu belum tepat 37 minggu masa kehamilannya. Keheningan terjadi ketika bayi itu berhasil dikeluarkan. Tidak ada suara tangis yang memecah, tidak pula gerakan sedikit pun dari makhluk mungil yang terlihat sedikit pucat itu. Degup jantung bayi itu lemah, namun degup jantung ayah dan ibunya mendebat sangat cepat. Tim medis dengan cergas melakukan penanganan untuk bayi itu. Makhluk mungil itu diletakkan di dalam inkubator untuk menghangatkan dan membuat bayi itu merasa nyaman. Namun, Allah berkehendak lain, selang 15 menit kemudian bayi itu tak lagi berdegup dan ia hembuskan nafasnya yang terakhir. Ia pergi meninggalkan kedua orang tuanya, kembali ke surga yang hijau yang dipenuhi taman dan buah-buahan.
Ledakan tangis tak terbendung dari diri Sadhia. Tangis yang sangat manusiawi dari seorang ibu ketika penantiannya akan sang buah hati berujung kepada keguguran yang begitu memilukan. Syarif hanya bisa menenangkan istrinya namun tak pula kuasa menahan air mata yang begitu deras mengalir membasahi jenggot yang tumbuh rapi di dagunya.
“Sabar umi, sabar, insya Allah putri kita sedang berlari-lari di surga dan akan senantiasa bersabar menanti kita untuk menjemputnya, bersenda gurau bersamanya di surga kelak”, ucap Syarif menenangkan istrinya.
Namun Sadhia masih menangis terisak-isak sembari berusaha menguatkan tubuhnya yang lemah, terlebih-lebih jiwanya. Dokter dan tim medis lainnya begitu sedih melihat kenyataan ini. Sepasang kekasih yang sangat dekat dengan Allah, yang hidup mereka sepenuhnya dibaktikan untuk umat harus menerima cobaan yang dahsyat luar biasa. Betapa mereka merasa semakin kerdil dan hinanya di hadapan Allah. Ilmu mereka tak pernah sebanding dengan kuasa dan kehendak Dzat yang menggenggam semesta alam.
Setelah diteliti lebih mendalam ternyata penyebab keguguran Sadhia adalah kelelahan yang terakumulasi sehingga melemahkan tubuhnya dan janinnya. Meskipun dokter sudah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak memaksakan diri beraktivitas yang berlebihan namun Sadhia tetap bersikeras untuk bekerja keras. “Demi kepentingan umat”, ucapnya singkat diiringi senyum tipis di wajahnya kala itu ketika ia menjelaskan alasannya kepada dokter kandungannya.
Beberapa saat setelah peristiwa memilukan itu, ternyata Allah memberikan rezeki dalam bentuk lain. Sepasang kekasih itu diterima untuk menjadi Ph.D candidatedi sebuah universitas di Leeds, UK. Usulan riset mereka begitu menjanjikan bagi para assessor universitas.
“Mohon lakukan terapi pasca kehamilan dan saya harap Anda dapat mengurangi aktivitas Anda. Jika tidak, akan sangat sulit bagi Anda untuk melahirkan bahkan untuk hamil kembali. Pak Syarif, tolong ingatkan dan jaga ibu supaya mampu menahan diri”, begitu nasihat dokter kandungan Sadhia kepada ia dan suaminya sebelum mereka terbang ke Leeds.
Semester kedua dan ketiga masa Ph.D-nya, Sadhia mengajukan cuti kepada pihak universitas terkait program rehabilitasinya. Disebabkan performance riset yang sangat memuaskan, pihak universitas memberikan izin cuti padanya dan bahkan tetap memberikan 3/4 dari jumlah beasiswa per semesternya. Tiada lagi yang dapat mereka ucapkan selain lantunan syukur kepada Allah Ta’ala. Cinta dan ketenangan semakin berkembang indah dalam pribadi keluarga itu dibalut dengan ketundukan dan ketakwaan kepada Sang Pemilik Cinta.
***
“Yuk, masuk ke dalam, Mi, udah masuk Maghrib”, panggilan sang suami membuyarkan segala lamunan masa lalu Sadhia. Sadhia menoleh dan memberikan senyum hangat kepada suaminya, seorang pria yang begitu tegar dan sabar, yang selalu menguatkannya di titik terlemah keterpurukannya. Bagi Syarif, senyum itu menghangatkan dunianya, meskipun udara saat itu menembus suhu 4 derajat Celcius.
Selepas menunaikan shalat berjamaah dengan istrinya di sebuah ruang kosong rumah sakit yang tidak terpakai, Sadhia merasakan kontraksi yang begitu hebat dari rahimnya.
“Abi, kontraksinya semakin hebat, Umi rasa ini sudah waktunya”, ucap Sadhia sembari meringis mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba timbul itu.
“Subhanallah, Abi panggilkan dokter dan kita segera ke ruangan bersalin”, jawab suaminya.
Sadhia terbaring lemah di atas dipan di ruang bersalin rumah sakit itu. Syarif berusaha menyembunyikan kecemasan dari wajahnya. Pengalaman pahit enam tahun lalu tiba-tiba kembali berkelebat dalam pikiran mereka.
“Bi, Umi takut”, ucap Sadhia lemah, sembari menggenggam ujung kemeja suaminya.
“Tenang, Mi, perbanyak istighfar, insya Allah, Allah selalu siapkan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya”, jawab Syarif sembari menggenggam erat jemari istri tercintanya.
Sang dokter yang telah mengetahui cerita mereka pun terlarut dalam atmosfer yang begitu mengharu biru.
“Please stay calm and do like your prenatal exercise, ma’am. I know you can do it, let’s do our best!” ucap dokter wanita paruh baya itu yang telah menemani mereka beberapa bulan ke belakang, bahkan ia begitu perhatian layaknya seorang ibu kepada anak wanitanya.
“I’ll do my best, Bismillah”, ucap Sadhia lirih.
Kontraksi semakin terasa begitu kuat, rasa sakit pun semakin memuncak. Pertanda bukaan terakhir telah terjadi di rahim Sadhia.
“Hirup, hempaskan, hirup, hempaskan, dan tetaplah tenang”, begitu ucap dokter itu menguatkan dan menenangkan Sadhia.
Genggaman tangan Sadhia terasa semakin kuat di tangan suaminya. Syarif membungkuk dan berbisik, “berjuanglah, Umi”.
Saat kontraksi sudah terasa begitu hebatnya dan sang bayi sudah terasa akan keluar, Sadhia mengejang semakin kuat.
“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar”, kalimat yang senantiasa Sadhia ucapkan seiring dengan kekuatan yang meluruh dalam tiap detiknya.
Dorongan ketiga, dan akhirnya, suara tangis bayi meledak memecah keheningan malam yang dingin itu. Salju terlihat turun dengan lembutnya mengantar kehadiran bayi mungil yang menjadi penantian kedua orang tuanya.
“Alhamdulillah”, bisik Sadhia dan kali ini genggaman tangannya melemah.
“Subhanallah, Maha Suci Allah, kamu berhasil, Umi”, bisik Syarif sembari mengecup kening istrinya yang penuh dengan peluh.
Setelah dibersihkan dan diselimuti oleh tim medis, Syarif mengumandangkan adzan dan iqamah bergantian di telinga kanan dan kiri makhluk suci itu. Lantunan adzan dan suasana yang begitu mengharukan itu membuat air mata menetes di pipi dokter wanita itu, meskipun ia masih belum mengerti mengapa ia teteskan air mata.
“Ya Allah, dialah mujahidku, aku serahkan hidup dan matinya di tangan-Mu. Biarkan ia hidup di jalan dakwah, berikan ia kekuatan untuk memanggul amanah, serta izinkan ia wafat saat mengibarkan panji-panji agama-Mu dan menyebarkan kalimat tauhid atas-Mu”, doa Syarif sembari mengangkat tinggi anak laki-lakinya itu.
Senyum merekah indah di wajah Sadhia. Penantian yang penuh cobaan, deraan, dan kesulitan seketika sirna dengan cahaya yang Allah turunkan untuknya berupa seorang bayi mungil yang wajahnya begitu mempesona.
“Demi Zat yang menggenggam jiwa ini, Ia selalu mampu luluhkan hati dalam balutan kepasrahan dan kesabaran”, ucapnya lirih.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17712/buah-hatiku-mujahidku/#ixzz1ikevjk78
setelah sempat menitihkan air mata baca tulisan ini, terus liat hastag-nya diatas.
hmmm ternyata cuma cerpen... ^^
ya Allah, sosok yang menghangatkan dan penuh kasih sayang itu hanya segelintir wujud nyata kasih sayang-Mu kepada kami.. lindungilah dia, berkahilah dia... berikan ia kedudukan terindah diakhiratmu kelak.. amiin :')
#meski hari ibu sudah berlalu
Sabtu, 29 Oktober 2011
Sebab Mengerasnya Hati
Penuis: Ibnul Qayyim rahimahullah
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)
Tidaklah Allah memberikan hukuman yang lebih besar kepada seorang hamba selain dari kerasnya qalbu dan jauhnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. An-Naar (neraka) adalah diciptakan untuk melunakkan qalbu yang keras. Qalbu yang paling jauh dari Allah adalah qalbu yang keras, dan jika qalbu sudah keras mata pun terasa gersang. Qalbu yang keras ditimbulkan oleh empat hal yang dilakukan melebihi kebutuhan: makan, tidur, bicara, dan pergaulan.
Sebagaimana jasmani jika dalam keadaan sakit tidak akan bermanfaat baginya makanan dan minuman, demikian pula qalbu jika terjangkiti penyakit-penyakit hawa nafsu dan keinginan-keinginan jiwa, maka tidak akan mempan padanya nasehat.
Barangsiapa hendak mensucikan qalbunya maka ia harus mengutamakan Allah dibanding keinginan dan nafsu jiwanya.
Karena qalbu yang tergantung dengan hawa nafsu akan tertutup dari Allah subhanahu wa ta’ala, sekadar tergantungnya jiwa dengan hawa nafsunya.
Banyak orang menyibukkan qalbu dengan gemerlapnya dunia. Seandainya mereka sibukkan dengan mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dan negeri akhirat tentu qalbunya akan berkelana mengarungi makna-makna Kalamullah dan ayat-ayat-Nya yang nampak ini, dan ia pun akan menuai hikmah-hikmah yang langka dan faedah-faedah yang indah. Jika qalbu disuapi dengan berdzikir dan disirami dengan berfikir serta dibersihkan dari kerusakan, ia pasti akan melihat keajaiban dan diilhami hikmah.
Tidak setiap orang yang berhias dengan ilmu dan hikmah serta memeganginya akan masuk dalam golongannya. Kecuali jika mereka menghidupkan qalbu dan mematikan hawa nafsunya.
Adapun mereka yang membunuh qalbunya dengan menghidupkan hawa nafsunya, maka tak akan muncul hikmah dari lisannya.
Rapuhnya qalbu adalah karena lalai dan merasa aman, sedang makmurnya qalbu karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan dzikir. Maka jika sebuah qalbu merasa zuhud dari hidangan-hidangan dunia, dia akan duduk menghadap hidangan-hidangan akhirat. Sebaliknya jika ia ridha dengan hidangan-hidangan dunia, ia akan terlewatkan dari hidangan akhirat.
Kerinduan bertemu Allah subhanahu wa ta’ala adalah angin semilir yang menerpa qalbu, membuatnya sejuk dengan menjauhi gemerlapnya dunia. Siapapun yang menempatkan qalbunya disisi Rabb-nya, ia akan merasa tenang dan tentram. Dan siapapun yang melepaskan qalbunya di antara manusia, ia akan semakin gundah gulana.
Ingatlah! Kecintaan terhadap Allah tidaklah akan masuk ke dalam qalbu yang mencintai dunia kecuali seperti masuknya unta ke lubang jarum (sesuatu yang sangat mustahil).
Jika Allah subhanahu wa ta’ala cinta kepada seorang hamba, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memilih dia untuk diri-Nya sebagai tempat pemberian nikmat-nikmat-Nya, dan Ia akan memilihnya di antara hamba-hamba-Nya, sehingga hamba itu pun akan menyibukkan harapannya hanya kepada Allah. Lisannya senantiasa basah dengan berdzikir kepada-Nya, anggota badannya selalu dipakai untuk berkhidmat kepada-Nya.
Qalbu bisa sakit sebagaimana sakitnya jasmani, dan kesembuhannya adalah dengan bertaubat. Qalbu pun bisa berkarat sebagaimana cermin, dan cemerlangnya adalah dengan berdzikir. Qalbu bisa pula telanjang sebagaimana badan, dan pakaian keindahannya adalah taqwa. Qalbu pun bisa lapar dan dahaga sebagaimana badan, maka makanan dan minumannya adalah mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, cinta, tawakkal, bertaubat dan berkhidmat untuk-Nya.
(diterjemahkan dan diringkas dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah hal 111-112)
Dikutip dari Asysyariah.com offline Penulis: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc dari kitab Al-Fawaid karya Ibnul Qayyim rahimahullah judul: Qalbu Mengeras Karena Jauh Dari AllahSebab sebab Hati (Qalbu) Mengeras..
http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/23/sebab-sebab-hati-qalbu-mengeras/
Sabtu, 03 September 2011
ketika kamu tidak menemukan apa yang kamu cari, pulanglah...
pintu hatimu akan selalu terbuka untukmu... :))
Jumat, 02 September 2011
I to the RI
Rewind!!!
apa? kembali fitri? hmm, memang sudah lebaran ya?
jangan khawatir, saya bukan sedang amnesia atau sedang tinggal di planet lain. hanya saja akhir-akhir ini otak saya semakin sibuk memikirkan hal-hal 'njelimet' yang berkaitan dengan konsep diri, tentang apa sebenarnya yang saya mau, apa yang ingin saya capai, apa yang sedang saya lakukan, apa yang seharusnya saya laukan, apakah ini benar, mengapa begitu, mau kemana saya, siapa saya dan lain sebagainya
namun itu semua hanya sekilas dan berhamburan begitu saja dikepala, saya masih belum tau cara untuk merumuskan jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu. tapi benar-benar menyita pikiran
selain itu, ramadhan kemarin pun berbeda dari biasanya, untuk pertama kalinya,saya jauh dari orang tua saat ramadhan, juga saya harus mengikuti ospek-ospek dan serangkaian kegiatan untuk mahasiswa baru.
tak terasa satu bulan terlewati, tiba-tiba umat Islam di Indonesia galau mengenai kapan berlebaran. akhirnya diputuskan, tanggal 30 untuk Muhammadiyah dan 31 untuk pemerintah. tiba-tiba saya tersadar...
kenapa ramadhan lekas pergi? akankah saya bertemu dengan ramadhan berikutnya?
maaf? kepada siapa?
ya, saya harus minta maaf pada diri saya sendiri